Senin, 16 November 2015

Sistem Informasi Manajemen "Teknologi Informasi Sebagai Keunggulan Kompetitif (Direktorat Jenderal Pajak)"

Nama Kelompok :
1.      Indrawalmen Sinaga                                  (44213400)
2.      Karina Eka Putri                                       (44213767)
3.      M. Ricky Apriadi                                       (45213162)
4.      Muhammad Irbawan Satrio Utoyo            (46213002)
5.      Siti Karomah                                             (48213556)

Kelas :
            3DA02

Mata Pelajaran :

Sistem Informasi Manajemen


Sistem Informasi Manajemen 
"Teknologi Informasi Sebagai Keunggulan Kompetitif "
(Direktorat Jenderal Pajak)

PROFIL INSTANSI 
Direktorat Jenderal Pajak (DJP) merupakansalah satu unit eselon I di lingkungan Kementrian Keuangan  Indonesia.  Sesuai  amanat  Peraturan Presiden Nomor 24  Tahun  2010  tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementrian Negara serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementrian Negara serta Peraturan Meneteri Keuangan Nomor 184/PMK.01/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementrian Keuangan, DJP mempunyai tugas merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi teknis di bidang perpajakan. Dalam melaksanakan tugas tersebut, DJP menyelenggarakan fungsi:
1.      Perumusan kebijakan di bidang perpajakan
2.      Pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakaan
3.      Perumusan standar, norma, kriteria danprosedur di bidang perpajakan
4.      Pemberian bimbingan teknis dan evaluasidi bidang perpajakan
5.      Pelaksanaan administrasi DJP




VISI DAN MISI INSTANSI
+Visi Direktorat Jenderal Pajak
Menjadi institusi pemerintah yang menyelenggarakan sistem administrasi perpajakan modern yang efektif, efisien, dan dipercaya masyarakat dengan integritas dan profesionalisme yang tinggi.

+Misi Direktorat Jenderal Pajak
Menghimpun penerimaan pajak negara berdasarkan undang-undang perpajakan yang mampu mewujudkan kemandirian pembiayaan Anggaran Pendapatandan Belanja Negara melalui sistem administrasi perpajakan yang efektif dan efisien.

TUJUAN & STRATEGI BISNIS INSTANSI
Penajaman dari visi dan misi menciptakan 15 rencana strategis DJP yang terdiri dari :
1.      Penerimaan pajak Negara yang optimal
2.      Kepercayaan masyarakat yang tinggi
3.      Tingkat kepuasan Wajib Pajak yang tinggiatas pelayanan perpajakan
4.      Tingkat kepatuhan Wajib Pajak yang tinggi
5.      Peningkatan efektivitas pembuatan danpenyempurnaan peraturan di bidangperpajakan
6.      Peningkatan kualitas pelayanan
7.      Peningkatan efektivitas sosialisasi dankehumasan
8.      Peningkatan penggalian potensi berbasis mapping, profil dan benchmark.
9.      Peningkatan efektifitas pemeriksaan
10.  Optimalisasi pelaksanaan penagihan
11.  Peningkatan efektifitas penyidikan
12.  Pembentukan SDM yang berkompetensitinggi
13.  Penataan organisasi yang handal
14.  Perwujudan TIK yang terintegrasi
15.  Pengelolaan anggaran yang optimal

IDENTIFIKASI PERMASALAHAN
Kepatuhan warga negara Indonesia terhadap kewajiban perpajakan masih sangat rendah. Harian Pikiran Rakyat Online menyebutkan bahwa Wajib Pajak orang pribadi baru sekitar 25 juta saja yang telah membayar pajak dari sekitar 60 Juta masyarakat. Sedangkan untuk Wajib Pajak Badan baru sekitar 520 Wajib Pajak yang membayar pajak dari sekitar 5 juta badan usaha yang memiliki laba.
Hasil penelitian Chusnul Chotimah, 2007, membuktikan terdapat pengaruh positif signifikan antara kualitas pelayanan perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi. Dalam artikel ini akan dibahas bagaimana Teknologi Informasi (TI) mampu memberikan nilai terhadap kualitas layanan yang pada akhirnya nanti dapat meningkatkan kepatuhan masyarakat.
Terdapat 16 layanan unggulan DJP yang ingin di-deliver kepada masyarakat. Dalam konteks pembahasan artikel ini dipilih satu layanan untuk ditelah lebih lanjut yaitu Pelayanan Penyelesaian Permohonan Pandaftaran NPWP. Pencapaian rencana strategis yang berkaitan dengan layanan tersebut dapat diukur dengan Indikator Kinerja Utama (IKU) pada tabel 1.

 ANALISIS NILAI TI BAGI ORGANISASI
Untuk mempermudah pemahaman mengenai nilai TI bagi organisasi maka disajikan model nilai TI melalui gambar 1
Sumber daya Teknologi Informasi (TI) jika dilihat secara lebih spesifik tidak berdampak secara langsung kepada tujuan organisasi. TI berperan sebagai enabler pada organisasi untuk menunjang aktifitas operasional yang nantinya berdampak kepada tujuan dan strategi perusahaan. Nilai TI mendukung nilai bisnis melalui penciptaan kapabilitas organisasi sehingga organisasi mampu mencapai keunggulan kompetitifnya dan memenuhi target yang ditetapkan

Sumber Daya TI
Pandangan terhadap TI tidak lagi bersifat parsial. TI tidak lagi dipandang sebagai sebuah tool yang terpisah (separated) dari perangkat organisasi, tetapi sudah dianggap sebagai salah satu sumber daya (resources) yang memiliki peran yang sama penting dengan sumber daya lain seperti finansial, aset, dan SDM. Sumber daya TI yang diidentifikasikan dalam COBIT dapat diterangkan atau diidentifikasikan sebagai berikut:

1.      Aplikasi (Application), merupakan suatusarana atau tool yang digunakan untuk mengolah dan menyimpulkan atau meringkas, baik prosedur manual maupun yang terprogram.
2.      Informasi (Information), adalah data-data yang telah diolah untuk kepentingan manajemen dalam membantu mengambil keputusan dalam menjalankan roda bisnisnya. Data-data terdiri obyek-obyek dalam pengertian yang lebih luas (yakni internal dan eksternal), terstruktur dan tidak terstruktur, grafik, suara dan sebagainya.
3.      Infrastruktur (Infrastructure), mencakup hardware, software, sistem operasi, sistem manajemen database, jaringan (networking), multimedia, dan fasilitas-fasilitas lainnya.
4.      Sumber Daya Manusia/SDM (People), merupakan sumber daya yang paling penting bagi organisasi dalam pengelolaan dan operasionalisasi organisasi. Kesadaran dan produktivitasnya dibutuhkan untuk merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, memperoleh, menyampaikan, mendukung, dan memantau layanan TI organisasi.

Kapabilitas Organisasi
Kapabilitas organisasi (organizationalcapabilities) mengacu pada kemampuan keseluruhan dari suatu organisasi yang jika dimanfaatkan secara optimal dan tepat maka dapat diyakini menjadi suatu keunggulan kompetitif bagi organisasi tersebut dalam mencapai sasarannya.

Kompetensi Inti Organisasi 
Kompetensi inti organisasi (organization corecompetence) dapat diartikan sebagai sebuah bidang keahlian khas dari sebuah organisasi yang sangat penting untuk keberhasilan jangka panjang. Kompetensi ini dibangun dari waktu kewaktu dan tidak dapat ditiru dengan mudah. Kompetensi inti organisasi  dapat  membedakan  perusahaan  dari  para  pesaingnya dan memberikan keunggulan kompetitif.

Keunggulan Kompetitif
Keunggulan kompetitif (Competitive advantage) adalah sebuah karakteristik dari organisasi yang memungkinkan untuk menciptakan lebih banyak keuntungan karena lebih baik dalam memenuhi kebutuhan pelanggan dari pada para pesaingnya. Hal ini terjadi karena organisasi dapat menerapkan layanan prima untuk setiap produk atau jasanya, atau karena dapat menjalankan proses bisnisnya dengan lebih efisien dari para pesaingnya. Setiap organisasi harus selalu berusaha untuk membangun keunggulan kompetitif jangka panjang.

Target
Target adalah sesuatu yang ingin dicapai oleh organisasi. Dalam konteks pembahasan ini dapat diejawantahkan melalui Indikator Kinerja Utama yang telah dibahas pada bagian sebelumnya. Dalam kaitannya dengan layanan DJP yang telah dipilih, model nilai TI pada gambar 1 dapat di implementasikan sebagaimana pada gambar 2.

Kemajuan teknologi telah memungkinkan pengiriman produk dan jasa yang dihasilkan oleh DJP dengan lebih mudah dan efektif dari sebelumnya. Hal ini menciptakan paradigma baru dalam menjalankan proses bisnis dimana dengan memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) DJP dapat meningkatkan kapabilitas organisasi. Semua kapablitas kritis yang dimiliki oleh DJP dalam upayanya mencapai keunggulan kompetitif akan menghasilkan kompetensi inti. Dengan memiliki kompetensi inti yang tidak dimiliki oleh instansi pemerintah lain, sulit untuk diimitasi dan tidak memiliki pengganti maka DJP akan mendapatkan keunggulan kompetitif. Semua keunggulan kompetitif tersebut berujung pada tercapainya target IKU DJP.

MANAJEMEN RESIKO TI BAGI INSTANSI
Resiko adalah efek ketidakpastian terhadap tujuan (ISO guide 73:2009). Resiko merupakan fungsi kemungkinan (likelihood) sumber ancaman (threat-source) mengeksploitasi kerentanan (vulnerability) potensial, yang menghasilan dampak kejadian yang merugikan organisasi.
Manajemen risiko merupakan suatu proses pengukuran atau penilaian risiko serta pengembangan strategi pengelolaannya. Salah satu manajemen resiko yang dapat digunakan adalah dengan menggunakan ISO 31000. Secara umum proses manajemen resiko yang terdapat pada ISO 31000 dapat dijelaskan melalui gambar3.

MENENTUKAN KONTEKS
Posisi TI pada layanan Penyelesaian Permohonan Pandaftaran NPWP DJP adalah sebagai enabler operasional (transaksi) layanan tersebut. Hal ini sesuai dengan nilai TI yang telah dibahas pada bagian sebelumnya yaitu TI digunakan untuk menciptakan nilai agar meningkatkan pertumbuhan bisnis dan kepatuhan masyarakat terhadap kewajiban perpajakan melalui keunggulan pelayanan prima yang terdepan dalam instansi pemerintah yakni pelayanan yang tangkas (agile), efektif, efisien, handal dan dipercaya.
Dari pernyataan nilai TI tersebut terdapat elemen utama yang harus diperhatikan yaitu meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kewajiban perpajakan. Kepatuhan masyarakat dipengaruhi oleh kepuasan masyarakat terhadap layanan yang diberikan.
Selama ini mindset yang tertanam di masyarakat adalah bahwa untuk memproses suatu urusan di layanan kantor pemerintahan itu selalu berbelit-belit, susah, lama dengan birokrasi yang cukup panjang. Selain itu kantor pemerintah juga identik dengan suap. Bila tidak mau repot cukup cari saja “orang dalam” lalu bayar dengan sejumlah uang yang dirasa cukup maka urusan akan beres dalam sekejap.
Mindset ini yang ingin diubah oleh DJP. DJP menyadari kepuasan masyarakat terhadap layanan berkaitan dengan dua hal yaitu harapan masyarakat terhadap kualitas layanan (expected quality) dan persepsi masyarakat terhadap kualitas layanan (perceived quality). Masyarakat selalu menilai layanan yang diterima dibandingkan dengan apa yang diharapkan atau diinginkan. Kepuasan masyarakat akan secara otomatis diikuti dengan kesadarannya untuk secara sukarela melaksanakan kewajiban perpajakan. Kepuasan masyarakat menyangkut apa yang diungkapkan oleh masyarakat tentang persepsi dan harapannya terhadap layanan yang diperoleh dari instansi. Sedangkan kepatuhan masyarakat berkaitan dengan apa yang akan dilakukan masyarakat setelah berinteraksi dengan suatu proses layanan yang disesiakan instansi.


ASSESSMENT RESIKO
Untuk mencapai tujuan utama (meningkatkan kepatuhan masyarakat terhadap kewajiban perpajakan) tersebut, DJP tentu memiliki kendala atau resiko yang harus dihadapi. Resiko-resiko tersebut berkaitan dengan kepuasan masyarakat yang nantinya akan mempengaruhi tingkat kepatuhan. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut:
1.      Kualitas layanan
Layanan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi kepuasan masyarakat. Kualitas layanan berpengaruh positif dan signifikan terhadap kepuasan masyarakat. Hal ini berarti bahwa semakin baik kualitas layanan yang diberikan oleh DJP, maka masyarakat semakin merasa puas terhadap layanan tersebut. Hubungan kualitas layanan dan kepuasan masyarakat tidak lepas dari pembicaraan kreativitas layanan. Untuk mewujudkan suatu layanan berkualitas yang bermuara pada kepuasan masyarakat, DJP harus mampu mengidentifikasi siapa pengguna layanannya sehingga mampu memahami tingkat persepsi dan harapan pengguna atas kualitas layanan. Kepuasan masyarakat merupakan perbandingan antara persepsi dengan harapan masyarakat terhadap layanan yang dirasakan.
2.      Citizen Value
Faktor selanjutnya yang mempengaruhi kepuasan masyarakat adalah nilai bagi masyarakat (citizen value). Citizen value adalah manfaat yang dirasakan oleh masyarakat dari pajak negara yang menjadi kewajibannya. Pajak yang dihimpun oleh negara pada akhirnya akan digunakan kembali untuk membangun dan memperbaiki keadaan suatu negara. Harapannya dengan meningkatnya pendapatan yang diperoleh dari pajak maka akan semakin ada banyak hal yang dapat dilakukan pemerintah untuk meningkatkan taraf hidup masyarakatnya.
Berdasarkan uraian tersebut, hubungan antara faktor-faktor yang dapat menyebabkan sebuah resiko dapat digambarkan seperti pada gambar 4

IDENTIFIKASI RESIKO
Pada identifikasi resiko ini dilakukan pengelompokan resiko dari setiap sumber daya TI yang medukung layanan Penyelesaian Permohonan Pandaftaran NPWP. Identifikasi yang dilakukan menghasilkan beberapa resiko yang mungkin terjadi pada sumber daya TI yang dimiliki DJP antara lain:

APLIKASI e-Reg
·         Peretasan aplikasi
·         Domain web kadaluarsa
·         Maint enance Aplikasi

DATA dan INFORMASI
·         Hilangnya data terkini
·         Penyalahgunaan/pencurian data

INFRASTRUKTUR
·         Kegagalan Software
·         Kerusakan Hardware
·         Koneksi jaringan putus/lambat
·         Bencana Alam
·         Server diserang virus

PEOPLE
·         Penyalahgunaan kedudukan pada divisi TI
·         Melemahnya loyalitas pada instansi karena tawaran yang menggiurkan dari pihak lain
·         Membeberkan informasi rahasia instansi

Analisis Resiko
Analisis resiko dilakukan dengan cara memberikan nilai dari setiap resiko yang muncul. Dari tiap-tiap resiko yang muncul akan dilakukan penilaian (bobot) dari sisi dampak yang diakibatkan dan frekuensi terjadinya. Adapun tabel nilai (bobot) dapat dilihat pada tabel 2. Identifikasi resiko yang mungkin terjadi dikelompokkan berdasarkan kategori sumber daya TI nya dapat dilihat pada tabel 3.



Evaluasi Resiko
Evaluasi resiko dilakukan dengan melakukan mapping pada grafik (x,y) yang menggambarkan hubungan antara frekwensi kemunculan dengan dampak yang diakibatkan. Grafik tersebut dibagi menjadi tiga area yaitu: tinggi, biasa dan rendah. Hasil mapping analisis resiko dapat dilihat pada gambar 5. Distribusi sebaran resiko pada gambar 5, dapat dijadikan dasar dalam melakukan pemeringkatan resiko yang perlu mendapatkan prioritas untuk ditangani terlebih dahulu. Secara berturut-turut yaitu pada jenis sumber daya aplikasi, infrastruktur, data & informasi dan yang terakhir adalah people.

PERLAKUAN RESIKO
Tahapan selanjutnya adalah menentukan strategi perlakuan resiko. Terdapat empat jenis strategi perlakuan resiko, yaitu risk avoidance (menghindari resiko), risk reduction (mengurangi/mitigasi resiko berupa pengurangan likelihood, pengurangan dampak dan pengurangan likelihood dan dampak sekaligus), risk sharing (berbagi resiko), risk acceptance (menerima resiko). Strategi perlakuan resiko yang paling tepat dalam mengatasi permasalahan yang sesuai dengan pembahasan ini adalah dengan risk reduction. Sedangkan program penanganan resiko yang dapat dilakukan dapat dilihat pada tabel4.

Dengan melihat tabel 4 instansi akan semakin merasakan arti pentingnya sebuahprosedur dan kebijakan yang baik. Dengan adanya prosedur dan kebijakan yang tepat maka kemungkinan terjadinya resiko dapat diminimalisir. Prosedur dan kebijakan juga harus senantiasa direview dan diperbaiki sesuai dengan kondisi instansi saat ini. Resiko memang tidak dapat ditolak, tetapi akan lebih baik jika organisasi lebih siap untuk menghadapinya.

Sumber
ü  Kementrian Keuangan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Pajak, “Laporan Tahunan 2011”, Jakarta:2012.
ü  Isaca.org., “IT Governance Implementation Guide: Using COBIT® and Val IT™”, 2nd Edition, 2007.
ü  M., and Popovic, M Spremic (2008), "Emerging issues in IT Governance: Implementing the Corporate IT Risk Management Model," issues 3 Volume 7.
ü  ISO (2009), “ISO 31000: Risk Management – Principles and Guidelines”, 1st Edition, International Standard, Switzerland. http://www.iso.org
ü  Parasuraman, V., A. Zeithaml and L. L. Beny. (1985). “A Conceptual Model of Service Quality and Its Implication for Future Research”, Journal of Marketing Research. 49. Pp.41-50.
ü  http://kamusbisnis.com/arti/kompetensi-inti/ diakses pada 3 Desember 2013.
ü  http://kamusbisnis.com/arti/keunggulankompetitif/ diakses pada 3 Desember 2013.
ü  http://www.pikiran-rakyat.com/node/242947 diakses pada 3 Desember 2013.
ü  Chotimah, Chusnul. Analisis Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan membayar pajak penghasilan orang pribadi (Survey di Kota Klaten). Skripsi Thesis, Universitas Muhamadiyah Surakarta. 2007.
ü  http://www.reform.depkeu.go.id/mainmenu.php ?module=peta_strategis_djp diakses pada 4 Desember 2013

ü  https://www.academia.edu/5471738/Nilai_dan_Resiko_TI diakses pada 15 November 2015

Jumat, 06 November 2015

Sistem Informasi manajemen PT Garuda Indonesia , Tbk


Sistem Informasi Manajemen PT Garuda Indonesia, Tbk


        Teknologi sistem informasi merupakan komponen utama yang memberikan value added terhadap pelayanan jasa disamping cost reducing, walaupun memang di awal, pembangunan dan development infrastruktur SIM adalah investasi yang cukup mahal.Di awal pengembangan SIM, perlu pengkajian yang dalam dalam memilih jenis hardware maupun software yang sesuai dengan karakteristik perusahaan sehingga tidak salah dalam pengembangan selanjutnya. SIM Transportasi Udara telah mengalami berbagai kecenderungan perubahan aplikasi untuk meninggkatkan efisiensi dan efektivitas dalam proses penjualan produk jasa.
Sistem Teknologi Informasi pada bisnis penerbangan, secara umum dibagi dalam dua system, yaitu :

a.    Sistem Front Office, yang menyangkut dan bersentuhan langsung dengan pelanggan, contohnya Sistem reservasi, Check in System, Boarding system, Website online, Payment Online, E-ticketing system, SMS Booking, Global Distribution System, dll.

b.  Sistem Back Office, yang mendukung jalannya operasional perusahaan, misalnya software accounting, Human Resources Information system, ERP system, Kontrol maintenance Aircraft, Aircraft Schedule Software, Customer Database, Air Crew Monitoring System, dll. Sistem di perusahaan maskapai sangat kompleks, system harus mampu mengintegrasikan system Front Office dan Sistem Back Office.

     Pada beberapa perusahaan penerbangan system di Indonesia seperti Garuda dan Merpati menggunakan system ERP. Garuda pengembangan sistem informasi ERP dimulai sejak 1999 sejalan dengan pelaksanaan program rehabiltasi perusahaan yang bertujuan menyehatkan perusahaan dari lilitan utang yang besar dengan menerapkan Software Applications and Product in Data Processing (SAP) sedangkan pada tahun 2004, menyusul Merpati Airlines mulai mengimplementasikan software ERP yaitu software SAP yang merupakan software pengelolaan perusahaan yang lengkap dan terintegrasi terutama dibidang keuangan dan warehouse untuk mengontrol dan memonitor pergerakan spare part pesawat dan memonitor penjualan tiket di seluruh Kantor Cabang Penjualan.

Jenis Sistem Informasi Bisnis
a.  Sistem Dari Sudut Pandang Fungsional
 System fungsional adalah jenis pertama system yang dikembangkan oleh perusahaan bisnis. System ini terletak pada departemen khusus seperti akuntansi, pemasaran dan penjualan, produksi dan sumber daya manusia.
1. Sistem Penjualan dan Pemasaran
     System penjualan dan pemasaran membantu manajemen senior untuk mengawasi pergerakan yang mempengaruhi produk baru dan kesempatan penjualan, mendukung perencanaan untuk produk dan jasa yang baru, dan mengawasi kinerja pesaing.
2. Sistem Manufaktur dan Produksi
     System manufaktur dan produksi berhubungan dengan perencanaan, pengembangan dan pemeliharaan fasilitas produksi; penetapan sasaran produksi; pengadaan, penyimpanan dan ketersediaan barang produksi; dan penjadwalan peralatan fasilitas, bahan baku dan tenaga kerja yang dibutuhkan untuk membentuk produk akhir.
3. Sistem Keuangan dan Akuntansi
     Fungsi keuangan bertanggung jawab mengelola asset keuangan perusahaan seperti uang tunai, saham, obligasi dan investasi lainnya untuk memaksimalkan pengembalian atas asset keuangan ini sekaligus mengelola kapitalisasi perusahaan. Fungsi akuntansi bertanggung jawab menjaga dan mengelola catatan keuangan perusahaan-penerimaan, pembayaran, depresiasi, penggajian-untuk menghitung arus dana dalam perusahaan.
            4. Sistem Sumber Daya Manusia
System informasi SDM mendukung aktivitas seperti mengenali karyawan potensial, menjaga catatan lengkap mengenai karyawan yang ada dan menciptakan program untuk mengembangkan bakat dan keahlian karyawan.

SISTEM DARI SUDUT PANDANG KONSTITUEN
           
        Manajer tingkat menengah membutuhkan informasi yang lebih terperinci mengenai hasil dari area fungsional dan departemen tertentu dari perusahaan, seperti hubungan penjualan oleh tenaga penjualan, statistika produksi untuk pabrik atau lini produk tertentu, tingkat biaya kepegawaian, dan pendapatan penjualan untuk setiap bulan bahkan setiap hari.
  1. System pemrosesan transaksi, adalah system terkomputerisasi yang menjalankan dan mencatat transaksi rutin harian yang diperlukan untuk menjalankan bisnis, seperti memasukkan pesanan penjualan, pemesanan hotel dan penggajian.
  2. System Informasi Manajemen dan system Pendukung Keputusan, SIM merangkum dan melaporkan operasi dasar perusahaan menggunakan data yang disediakan oleh system pemrosesan transaksi. System pendukung keputusan menunjang pembuatan keputusan yang tidak rutin untuk manajemen tingkat menengah.
  3. System Pendukung Eksekutif, adalah membantu manajemen senior membuat keputusan ini. Sistem pendukung eksekutif menangani keputusan tidak rutin yang membutuhkan penilaian, evaluasi dan pendekatan karena ridak terdapat prosedur yang disetujui untuk mencapai solusi.
E-Business dalam PT Garuda Indonesia, Tbk

        Perkembangan teknologi membantu proses komunikasi melalui peralatan multimedia seperti intranet, ekstranet, dan internet. Media email, fax, dan media lainnya pun sering digunakan dalam mendukung proses bisnis perusahaan. Manajemen Garuda Indonesia melakukan kegiatan e-business terkait dengan serangkaian bisnis perusahaan. Bila kita identifikasi sesuai dengan arsitektur aplikasi e-business perusahaanmaka disana kita akan melihat Garuda Indonesia memberikan kerangka kerja konseptual yang menghubungkan antar proses dan interface dari aplikasi e-business yaitu mulai dari bagaimana customer relationship management perusahaan, hubungan dengan pemasok seperti Pertamina dan Boeing sebagai pemasok bahan bakar dan pesawat dengan e-procurement pada supply chain management perusahaan, e-commerce pada partner relationship management, human resources development system di Garuda Indonesia dan enterprise resource planning sebagai kolaborator dari keempat elektronik-isasi sistem bisnis yang ada di garuda.

 Electronic Business System

           E-business adalah praktek pelaksanaan dan pengelolaan proses bisnis utama seperti perancangan produk, pengelolaan pasokan bahan baku, manufaktur, penjualan, pemenuhan pesanan, dan penyediaan servis melalui penggunaan teknologi komunikasi, komputer, dan data yang telah terkomputerisasi ( Alter, 2002). Pada prinsipnya e-business mengacu pada lingkungan yang lebih luas dan mencakup pelayanan customer, kolaborasi dengan mitra bisnis dan transaksi elektronik internal dalam sebuah organisasi (Anastasia, 2004).
Sejarah adanya e-business muncul setelah era internet. Akan tetapi istilah e-business pertama kali dipopulerkan oleh IBM sekitar sepuluh tahun yang lalu. E-business dapat menjadi aset yang strategis dan menjadi keunggulan suatu perusahaan jika mampu dimanfaatkan dengan baik. Sebuah perusahaan harus mampu melakukan transformasi proses bisnis yang mereka lakukan agar dapat memanfaatkan e-business dengan baik. Secara umum keuntungan yang tinggi akan diperoleh jika e-business yang dimiliki dapat terkait secara langsung dan membentuk komunitas dengan konsumen, rekan kerja, dan suppliers.
Selain itu dalam implementasi marketing perusahaan, kegiatan yang meliputi transaksi bisnis antara perusahaan yang satu dengan yang lain telah berkembang dengan E-commerce. Korelasi hubungan terjadi antara perusahaan dengan pelanggan, atau antara perusahaan dengan institusi yang bergerak dalam pelayanan publik. Jika diklasifikan, sistem e-commerce terbagi menjadi 3 tipe, yaitu:
1. Electronic markets (EMs) yaitu sistem informasi antar organisasi yang menyajikan fasiltas-fasilitas bagi para penjual dan pembeli untuk bertukar informasi mengenai produk dan service yang ditawarkan.
2. Electronic Data Interchange (EDI) yaitu sarana untuk mengefisiensikan pertukaran data transaksi-transaksi reguler yang berulang dalam jumlah besar antara organisasi-organisasi komersial. Secara formal EDI didefinisikan oleh International Data Exchange Asociation (IDEA) sebagai “transfer data tersruktur dengan format standard yang telahdisetujui yang dilakukan dari satu sistem komputer ke sistem komputer yang lain dengan menggunakan media elektronik”.
3. Internet Commerce yaitu penggunaan internet yang berbasis teknologi informasi dan komunikasi untuk perdagangan melingkupi kegiatan penjualan produk dan jasa. Transaksi yang dapat dilakukan di internet antara lain pemesanan/pembelian barang dimana barang akan dikirim melalui pos atau sarana lain setelah uang ditransfer ke rekening penjual. Penggunaan internet sebagai media pemasaran dan saluran penjualan mempunyai keuntungan antara lain: internet merupakan media pomosi perusahaan dan produk yang paling tepat dengan harga yang relatif lebih murah dan pembelian melalui internet akan diikuti dengan layanan pengantaran barang sampai di tempat pemesanan.

E-commerce mengacu pada penjualan produk dan layanan melalui web, sementara e-business adalah ransformasi dari kunci bisnis proses perusahaan melalui penggunaan teknologi internet. Sebagai contoh dari e-business yaitu penerapan Enterprise Resource Planning, Customer Relationship Management, Supply Chain Management, dan Human Resources Management. Dalam hal ini, perusahaan menerapkan e-business karena pada dasarnya konsumen adalah pencari harga, kenyamanan, layanan terbaik bagi mereka sehingga perusahaan yang dapat survive adalah perusahaan yang mampu merespon dengan baik keinginan dan harapan pelanggannya.
Customer Relationship Management
CRM menggunakan teknologi informasi untuk menciptakan cross-functional enterprise system yang mengintegrasikan dan mengotomatisasi proses layanan pelanggan dalam bidang penjualan, pemasaran, dan layanan produk atau jasa berkaitan dengan perusahaan. Sistem CRM juga menciptakan IT framework yang menghubungkan semua proses dengan bisnis operasional perusahaan (O‟Brien, 2002).
CRM berkaitan dengan kegiatan penjualan terpadu, marketing dan strategi pelayanan kepada pelanggan.. Melalui CRM Garuda Indonesia menggunakan jaringan pelanggan yang ada saat ini untuk meningkatan pendapatan perusahaan, memperoleh informasi yang lengkap untuk memberikan layanan prima, dan sekaligus memperkenalkanchannel procedures yang konsisten.
CRM PT Garuda Indonesia, Tbk dilakukan untuk membina dan menjaga hubungan antara pelanggan dengan pihak manajemen. Secara lebih jauh, pemahaman yang mendalam terhadap pelanggan akan mampu menghasilkan respon yang cepat terhadap perubahan preferensi konsumen sehingga akan mampu meningkatkan pendapatan perusahaan. Selain itu CRM di Garuda Indonesia bermanfaat untuk memperoleh informasi yang dapat dibagikan kepada partner bisnis perusahaan.
Untuk mendukung CRM, Garuda Indonesia senantiasa memberikan frequent-flyerdalam dua bahasa yang berisi tentang informasi-informasi terkini perusahaan kepada pelanggan yang loyal melalui email. Hal ini selain bersifat apresiasi juga bersifat marketing dan pengelolaan loyalitas pelanggan. Kegiatan yang berhubungan dengan CRM pada perusahaan ini adalah dengan penggunaan sistem informasi (website) yang bisa diakses oleh semua kalangan tanpa batas, mulai dari penyediaan informasi perusahaan, produk, forum diskusi antara pelanggan dengan pihak manajemen sampai pada proses pemesanan.

Enterprise Resource Planning
Dhewanto dan Falahah (2007) mendeskripsikan ERP sebagai sebuah konsep untuk merencanakan dan mengelola sumber daya organisasi agar dapat dimanfaatkan secara optimal untuk menghasilkan nilai tambah bagi seluruh pihak yang berkepentingan (stakeholder) atas organisasi tersebut.

Supply Chain Management
Supply Chain Management adalah sebuah proses dimana produk diciptakan dan disampaikan kepada konsumen. Dari sudut struktural, sebuah Supply Chain Management merujuk kepada jaringan yang rumit dari hubungan dimana organisasi mempertahankan dengan partner bisnis untuk memperoleh bahan baku, produksi dan menyampaikannya kepada konsumen (Kalakota, 2001). E-Supply Chain Managementadalah suatu konsep manajemen dimana perusahaan berusaha memanfaatkan teknologi internet untuk mengintegrasikan seluruh mitra kerja perusahaan, terutama yang berhubungan dengan sistem pemasok bahan baku atau sumber daya yang dibutuhkan dalam proses produksi (Indrajit dan Djokopranoto, 2003).

E-Precurement dalam Supply Chain Management System PT Garuda Indonesia, Tbk
Dari semua hubungan e-business yang dilakukan oleh Garuda Indonesia, transaksi B2B (bisnis ke bisnis) menghasilkan nilai bisnis yang paling tinggi, maka Garuda Indonesia memutuskan untuk mengembangkan kinerja operasional dalam proses pembelian dengan menerapkan e-procurement system. Layanan e-procurement menyediakan metode bisnis yang modern dan praktik komersial dari sektor swasta dan pemerintah dan merupakan teknik baru yang dihasilkan dari kemampuan internet dalam memberikan peluang untuk penghematan biaya bagi kedua pemasok dalam melakukan transaksi bisnis maupun kontrak bisnis. Garuda Indonesia memilih para pemasoknya dengan mempertimbangkan daya saing, fleksibilitas, dan inovasi yang dilakukan oleh pemasok sehingga dari program e-procurement ini sendiri mengindikasikan adanyasupplier database system yang dimiliki oleh Garuda Indonesia.

E-procurement telah membantu Garuda Indonesia dalam menjalin kesepakatan kontrak, meningkatkan komunikasi dengan pemasok terkait dengan proses pembelian, dan juga membantu Garuda Indonesia dalam mengeliminasi eksternalitas yang bersifat negatif. Website Garuda Indonesia yaitu garuda-indonesia.com menyediakan link ke Garuda Indonesia e-procurement (www.eproc.garuda-indonesia.com). Situs ini berisi mengenai berita, pengadaan, pendaftaran pemasok, login, dan bagaimana cara menghubungi perusahaan. Situs ini berisi informasi penting secara komprehensif seperti kebijakan vendor, pertanyaan yang sering muncul dalam proses bisnis B2B, pendaftaran vendor, dan kontak untuk online pengadaan
E-commerce dalam Partners Relationship Management PT Garuda Indonesia, Tbk
Brand Garuda Indonesia mengembangkan dua jenis e-Commerce, yaitu Business to Business dan Business to Customer. B2B dilakukan Garuda dengan menyediakanCoporate Online dan Agency Online, sedangkan B2C dilakukan dengan personnal online booking. Fitur e-Commerce untuk brand Garuda Indonesia sangat lengkap bila dibandingkan dengan fitur e-Commerce dari brand maskapai penerbangan lainnya. Garuda Indonesia menawarkan e-Commerce terpadu yang disebut dengan 28 Customer Touch Points yang memungkinkan calon/penumpang Garuda Indonesia mengakses service online dari before flying sampai after arrival yang disediakan melalui web. Fitur-fitur tersebut sangat jelas dan mudah dimengerti. Beberapa fitur tersebut adalah:
a.       Book Flight
b.      Check In dan e-Ticketing
c.       Show Schedule and Tariff
d.      e-Payment
e.       Promotion and Touch the Feel
f.       Special Corporate Fares dengan diskon yang atraktif baik untuk kelas penerbangan bisnis dan ekonomi.
g.       Priority waiting list
h.      Incentives awarding
i.        Fasilitas 24pecial untuk dapat mengkreditkan VAT pada tiket.
j.        Laporan yang komprehensif setiap bulannya
k.  Pembelian dan pemesanan tiket melalui berbagai cara dengan menyebutkancorporate memberhip
Human Resources Management System pada PT Garuda Indonesia, Tbk

Unit SDM melakukan transformasi peran dan fungsinya agar menciptakan nilai tambah sejalan dengan strategi bisnis perusahaan. Transformasi SDM dimulai di tahun 2008 dengan meluncurkan beberapa inisiatif program diantaranya yaitu penentuan penempatan para karyawan berdasarkan level organisasi dan tingkat pendidikan, termasuk di dalamnya penataan organisasi yang efisien dan efektif agar dapat memudahkan proses penerjemahan visi, misi dan sasaran bisnis kepada seluruh pihak internal. Knowledge Based Management dilakukan di unit ini sehingga perencanaan sumberdaya manusia dapat diimplementasikan dengan tepat.

Program e-Recruitment Garuda Indonesia tidak hanya mencakup tools publish vacant position, namun juga seluruh proses administrasi dan pencatatannya. Sistem ini telah diterapkan sejak bulan September 2010 dengan merekrut posisi Awak Kabin, untuk selanjutnya digunakan untuk posisi lainnya seperti Penerbang dan para profesional. Dalam bidang rekrutmen pekerja atau karyawan, perusahaan juga menyadari pentingnya rekrutmen yang baik di tengah persaingan yang demikian ketat dalam memperebutkan sumber daya manusia yang handal. Untuk itu faktor penyajian informasi, penyediaan proses dan kecepatan waktu menjadi penting artinya dalam memperoleh karyawan berkualitas sesuai kebutuhan perusahaan.
Untuk mengoptimalkan SDM, perusahaan juga telah memetakan potensi SDM dan mengalokasikan pada fungsi organisasi yang tepat (unit bisnis maupun grup Perusahaan). Selain itu, Garuda juga terus berupaya menyempurnakan pengelolaan karir sehingga lebih mudah memetakan pegawai potensial dalam talent pool (grup Perusahaan). Sistem pembelajaran e-learning juga dilakukan untuk meningkatkan kualitas SDM perusahaan. Sementara itu, sejalan dengan strategi bisnis, Perusahaan berupaya menyempurnakan Human Capital Manual (HCM) yang mengatur tentang kebijakan SDM, organisasi, rekrutmen dan seleksi, mutasi antar unit maupun antar perusahaan dalam grup, sistem penilaian kinerja, pengembangan karir serta kompensasi dalam Human Resources Management System sehingga menghasilkan SDM yang kompetitif, inovatif dan memiliki integritas tinggi sesuai sasaran pencapaian bisnis perusahaan

Selain program tersebut di atas, dalam upaya menciptakan tenaga terampil dan profesional yang diproyeksikan untuk menduduki jabatan tertentu di masa depan, Perusahaan membuka program rekrutmen jalur khusus yaitu Program Management Trainee. Program ini bertujuan untuk menyiapkan tenaga potensial yang diharapkan mampu menciptakan perubahan dalam pola kerja, suasana kerja dan komitmen kerja yang tinggi. Melalui Program Management Trainee ini Perusahaan juga memastikan ketersediaan kandidat suksesi yang kompeten dan berkualitas.

 Fungsi Enterprise Resource Planning pada PT Garuda Indonesia, Tbk
Enterprise resource planning PT Garuda Indonesia, Tbk merupakan sebuah kerangka kerja perusahaan secara menyeluruh yang berhubungan dengan pemrosesan pesanan penjualan tiket, manajemen dan pengendalian atau maintenance unit pesawat, perencanaan produksi dan distribusi jasa perusahaan, serta keuangan perusahaan. Garuda indonesia sendiri tentunya telah menerapkan software khusus dalam merancang ERP perusahaan. Fungsi ERP dapat diuraikan sebagai berikut :
a. Perencaanan produksi
Pada proses produksi jasa perusahaan ini telah didukung dengan perencanaan kebutuhan bahan baku perusahaan secara keseluruhan.
b. Logistik terintegrasi
Kegiatan operasional perusahaan tidak dapat berjalan dengan baik jika tidak adanya logistik yang terintegrasi yakni mulai dari yang berhubungan dengan produksi jasa layanan hingga kepada produk turunan perusahaan.
c. Akuntasi dan keuangan
Semua dana untuk kegiatan operasional PT Garuda Indonesia, Tbk haruslah dibukukan dalam sebuah laporan keuangan tiap bulannya maupun tahunan. Pencatatan tersebut perlu dilakukan untuk mengetahui tingkat efisiensi perusahaan dalam penggunaan dana. Serta merupakan proses evaluasi manajemen untuk kedepannya. Pencatatan itu disimpan dalam bentuk database yang sistematis dan jelas, akan tetapi dalam hal ini database hanya bisa diakses oleh pihak-pihak tertentu untuk menghindari user dalam penyalahgunaan data.
d. Sumber Daya Manusia
Kegiatan operasional PT Garuda Indonesia, Tbk tidak bisa berjalan dengan baik tanpa ketersediaan pekerja dan kualitas dari pekerja tersebut. Oleh karena itu perencanaan sumberdaya manusia secara tepat perlu dilakukan oleh perusahaan.

e. Distribusi, Penjualan, Manajemen Pemesanan
Proses distribusi, penjualan dan pemesanan tiket PT Garuda Indonesia, Tbk didukung oleh sistem informasi bisnis perusahaan yang didukung dengan kegiatan e-commerce perusahaan baik itu sistem brokerage, affiliate, maupun manufacture.

http://inuwandari.blogspot.co.id/2013/12/sistem-informasi-manajemen-pt-garuda_15.html